Salem Keindahan di Tengah Jawa dengan 21 Wilayah Pedesaan

Reporter Redaksi 146 Views

Nasional, Media RCM.com – Kecamatan Salem terletak di ujung barat daya wilayah Kabupaten Brebes yang berbatasan dengan wilayah kecamatan Banjarharjo dan kecamatan Ketanggungan di sebelah utara, dan berbatasan dengan kecamatan Bantarkawung di sebelah timur, sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Cilacap dan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Kuningan (Jawa Barat).

Kecamatan Salem mempunyai luas wilayah sebesar 167,21 km² yang terbagi menjadi 21 desa. Desa Gunung Tajem adalah desa terluas dengan luas 13,57 km². Sedangkan desa dengan luas wilayah paling kecil adalah desa Pabuaran sebesar 3,83 km².

Dua puluh satu Desa di Salem yaitu, Gunung Jaya, Indrajaya, Banjaran, Salem, Gunung Larang, Gunung Sugih, Ganggawang, Citimbang, Kadumanis, Gandoang, Ciputih, Bentarsari, Bentar, Pabuaran, Tembongraja, Gunung Tajem, Windusakti, Winduasri, Capar, Wanoja, dan Pasir Panjang

Jumlah Penduduk Kecamatan Salem pada akhir tahun 2024 yaitu, 65.224 jiwa. Data dari tingkat kepadatannya, dimana luas daerah ikut diperhitungkan, Desa Bentar menempati urutan pertama sebagai desa yang paling padat penduduknya di Kecamatan Salem, dimana kepadatan penduduknya 1.127 penduduk/Km² yang berarti bahwa tiap 1 Km² ditempati 1.127 penduduk.

- Advertisement -

Sedangkan desa dengan kepadatan penduduk terendah ditempati oleh Desa Winduasri, dimana kepadatan penduduknya hanya 67 penduduk/ Km² yang berarti bahwa tiap 1 Km² hanya ditempati 67 penduduk.

Kecamatan Salem punya cukup banyak potensi wisata alam, daerahnya perbukitan dan pegunungan sehingga kebanyakan wisata Salem merupakan wisata Alam, yaitu Gunung Lio, kawasan pegunungan dengan hutan pinus, cocok untuk pendakian dan petualangan; Bukit Bintang Capar (Desa Capar), spot sunset, gardu pandang bentuk bintang, dikelilingi hutan pinus, dengan tiket lima ribu rupiah; Bukit Panenjoan (Desa Wanoja), berada di ketinggian sekitar 850 mdpl, terkenal sebagai spot sunrise dengan pemandangan terasering sawah yang sering dibandingkan dengan Ubud, Bali; Ranto Canyon (Desa Winduasri), wisata air terjun yang diapit dua tebing tinggi, tiket masuk tiga puluh ribu rupiah termasuk pemandu dan alat pelindung diri; Kalibaya Park (Desa Pasir Panjang), wahana wisata dengan gardu pandang, sepeda gantung, spot foto; wisata budaya Salem berupa upacara Adat Ngasa di Desa Gandoang, tradisi turun-temurun yang diperingati setiap Selasa Kliwon bulan Maret sebagai bentuk syukur, diikuti ratusan warga membawa hasil panen ke Gunung Sagara, adapun kuliner produk local Salem kopi Capar, telur asin, soto, keripik singkong, gula aren, dan madu hutan.

Strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan wisata Salem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan kewenangan desa, karena desa punya kewenangan lokal untuk mengelola potensi wisata, juga kolaborasi tiga pihak yaitu, pemerintah desa (dengan kewenangan otonomi aslinya), BUMDes sebagai motor ekonomi, dan masyarakat sebagai pelaku langsung.

(Penulis: Harimurti, S.S.T., M.M.-Ahli Badan Pusat Statistik)

Bagikan Berita Ini
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *