Peluang Kuliah Sambil Kerja Lewat UBISA

Reporter Redaksi 523 Views

Nasional, Media RCM.com – Kebutuhan tenaga kerja di Asia Timur, khususnya Jepang dan China sangat besar, dimana Jepang dan China merupakan Negara Maju yang mengandalkan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Jumlah Provinsi (todofuken) sebanyak 47, dimana ke-47 prefektur ini dikelompokkan lagi menjadi 8 wilayah utama, yaitu: Hokkaido, Tohoku, Kanto, Chubu, Kinki (Kansai), Chugoku, Shikoku, dan Kyushu. Sedangkan China terdiri dari 34 provinsi (divisi administrasi), wilayah yang diklaim pemerintah ini terdiri dari pengelompokan, 23 Provinsi (termasuk Taiwan yang diklaim sebagai provinsi ke-23), 5 Daerah Otonom (Xinjiang, Tibet, Mongolia Dalam, Ningxia, dan Guangxi), 4 Kota / Munisipalitas (Beijing, Shanghai, Tianjin, dan Chongqing), dan 2 Daerah Administratif Khusus (Hong Kong dan Makau).

Jepang saat ini masih sangat membutuhkan tenaga kerja asing karena jumlah penduduk usia produktif terus menurun dan populasi lansia semakin besar. Pemerintah Jepang membuka berbagai jalur kerja resmi, terutama melalui program Specified Skilled Worker (SSW/Tokutei Ginou), berdasarkan target penerimaan tenaga kerja asing 2024–2029, sektor yang paling membutuhkan pekerja adalah, manufaktur industri 173.300 orang, Pengolahan makanan dan minuman 139.000 orang, Perawatan lansia (caregiver) 135.000 orang, pertanian 82.000 orang, konstruksi 80.000 orang, jasa makanan restoran 53.000 orang, kebersihan gedung 37.000 orang, perkayuan 28.500 orang, transportasi 24.500 orang, perhotelan 23.000 orang (ISO Jepang).

Pemerintah Indonesia dan Jepang terus memperluas kerja sama penempatan pekerja migran. Pada 2025, pejabat Indonesia menyebut Jepang membutuhkan ratusan ribu tenaga kerja tambahan, dan pekerja Indonesia dinilai memiliki reputasi baik dalam hal kedisiplinan dan pelayanan.

- Advertisement -

Beberapa sektor yang banyak menerima pekerja Indonesia saat ini, Pertanian, Perikanan, Konstruksi, Perawatan lansia, Manufaktur, Pengolahan makanan, Perhotelan dan restoran (ANTARA News)
China sendiri masih membutuhkan tenaga kerja di beberapa sektor tertentu, tetapi situasinya berbeda dengan Jepang.

Di satu sisi, China menghadapi penurunan jumlah penduduk usia kerja dan penuaan populasi, sehingga beberapa industri mengalami kekurangan tenaga kerja. Namun di sisi lain, tingkat persaingan kerja untuk lulusan baru dan pekerjaan kantoran cukup tinggi.

Sektor yang banyak membutuhkan tenaga kerja di China, Operator mesin, Teknisi produksi, Quality control, Pekerja perakitan elektronik, generasi muda China semakin kurang tertarik bekerja di pabrik, sehingga sektor ini sering mengalami kekurangan pekerja. (china-briefing.com)

Bagi yang mau bekerja di luar negeri maka bisa kuliah di Universitas Bima Sakapenta (UBISA) sambil mendapatkan pengalaman kerja atau magang di luar negeri. Kampus ini memiliki program khusus yang dirancang untuk mendukung visi tersebut.

Berikut adalah fakta penting mengenai peluang kerja dan kuliah luar negeri di UBISA, pertama Program Magang Internasional Resmi UBISA, secara aktif memfasilitasi mahasiswanya untuk merasakan pengalaman kerja global. Kampus ini bekerja sama dengan mitra internasional untuk menyelenggarakan Program Magang/Internership ke luar negeri, salah satu fokus utamanya saat ini adalah ke negara Taiwan.

Sebagai bukti nyata, UBISA telah resmi memberangkatkan mahasiswanya untuk mengikuti Internship International selama satu tahun di Taiwan. Kedua Pilihan Program Studi (Prodi) yang Tersedia, Penggabungan institusi pendidikan ini membentuk UBISA dengan dua lokasi kampus (Kampus Utama di Tegal, Jawa Tengah dan Kampus PSDKU di Bogor, Jawa Barat).

Jurusan yang bisa Anda pilih meliputi, S1 Akuntansi, S1 Manajemen, S1 Hukum, S1 Informatika, S1 Teknik Sipil, S1 Teknik Mekatronika, D3 Akuntansi, D3 Kebidanan. Ketiga Skema Kuliah Sambil Kerja, Program magang internasional di UBISA dikonsepkan agar mahasiswa tetap terdaftar secara akademik namun bisa mempraktikkan ilmunya langsung di industri global.

Melalui program internship ini, Anda bias menghasilkan pendapatan/uang saku dari luar negeri, mengasah keterampilan teknis (hard skills) dan soft skills di negara maju, membuka peluang direkrut menjadi karyawan tetap di luar negeri setelah lulus kuliah.

(Ditulis: Harimurti, S.S.T., M.M.-Ahli Badan Pusat Statistik)

Bagikan Berita Ini
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *