Warga Keluhkan Pisang Tak Layak Konsumsi dalam Program MBG di Desa Kedungwaru, Tulungagung

Reporter Iwan Yuliantoro 29 Views
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 42;

Tulungagung,-Media RCM.com​

Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Kedungwaru pada Sabtu (4/4/2026) menuai kritik tajam dari warga.

Pasalnya, paket nutrisi yang dibagikan ditemukan dalam kondisi memprihatinkan, terutama pada komoditas buah pisang yang dinilai tidak layak konsumsi
​Kondisi Buah. “Mlodot” dan Busuk
​Sejumlah penerima manfaat, khususnya ibu menyusui dan orang tua balita, mengeluhkan kondisi pisang yang diterima dalam keadaan lembek berlebihan (mlodot), kulit menghitam, dan sebagian sudah mulai membusuk.

​Kondisi ini dianggap sangat berisiko jika dipaksakan untuk dikonsumsi oleh kelompok rentan.

- Advertisement -

“Pisangnya sudah tidak bisa dimakan, baunya asam dan teksturnya hancur. Sangat berbahaya kalau diberikan ke balita atau dimakan ibu yang sedang menyusui,” ujar salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

​Poin Utama Keluhan Warga
​Kualitas Bahan Buah pisang tidak segar dan sudah melewati masa layak konsumsi.
​Risiko Kesehatan: Kekhawatiran akan gangguan pencernaan bagi balita.

​Ketepatan Sasaran Program yang seharusnya meningkatkan gizi justru memberikan bahan yang berpotensi menjadi sumber penyakit.
​”Kami berharap pihak penyelenggara lebih selektif dalam memilih vendor atau penyedia makanan. Ini program kesehatan, jangan sampai malah membuat warga sakit karena makanan busuk.”
​Harapan Kedepan
​Warga Desa Kedungwaru mendesak pihak terkait untuk segera melakukan evaluasi terhadap rantai distribusi dan kontrol kualitas (quality control) sebelum bantuan dibagikan ke masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu penjelasan resmi dari pihak pelaksana program MBG di tingkat desa maupun kecamatan terkait temuan buah busuk tersebut.

Bagikan Berita Ini
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *