NASIONAL, Media RCM.com – Nilai ekspor Indonesia periode Januari-Maret 2026 naik 0,34 persen dibanding periode yang sama tahun 2025, yaitu dari US$66.619,7 juta menjadi US$66.849,2 juta. Peningkatan ekspor Januari-Maret 2026 dibanding periode tahun lalu disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas 0,98 persen dari US$62.982,0 juta menjadi US$63.596,5 juta, sedangkan ekspor migas turun 10,58 persen, yaitu dari US$3.637,7 juta menjadi US$3.252,7 juta , berdasar rilis berita resmi BPS Mei 2026.
Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor minyak mentah 44,32 persen menjadi US$258,6 juta, ekspor hasil minyak turun 1,61 persen menjadi US$1.291,0 juta, dan ekspor gas alam turun 8,49 persen menjadi US$1.703,1 juta.
Ekspor Indonesia pada Maret 2026 tercatat US$22.526,8 juta, turun 3,10 persen dibanding Maret 2025. Demikian juga dengan ekspor nonmigas turun 2,52 persen menjadi US$21.245,9 juta.
Adapun perkembangan sepuluh komoditas ekspor utama periode Januari-Maret 2026. Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah nikel dan barang daripadanya sebesar US$1.229,2 juta (60,60 persen). Sementara komoditas dengan penurunan tertinggi adalah bahan bakar mineral US$674,0 juta (8,35 persen).
Komoditas lainnya yang juga meningkat nilai ekspornya adalah lemak dan minyak hewani/ nabati US$644,8 juta (7,95 persen); kendaraan dan bagiannya US$315,5 juta (11,51 persen); berbagai produk kimia US$266,8 juta (12,27 persen); mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya US$206,2 juta (4,90 persen); mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya US$166,9 juta (9,26 persen) serta besi dan baja US$36,4 juta (0,56 persen).
Sementara komoditas lain yang mengalami penurunan adalah logam mulia dan perhiasan/permata US$184,7 juta (7,80 persen) serta alas kaki US$63,3 juta (3,34 persen).
Selama Januari-Maret 2026, ekspor dari sepuluh golongan barang (HS 2 digit) di atas memberikan kontribusi 65,79 persen terhadap total ekspor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan, ekspor sepuluh golongan barang tersebut naik 4,87 persen terhadap periode yang sama tahun 2025.
Secara jelas rilis BPS mencatat pada Januari-Maret 2026, Tiongkok tetap merupakan negara tujuan ekspor yang memiliki peranan terbesar yaitu sebesar US$16.496,8 juta (25,94 persen), diikuti oleh Amerika Serikat US$7.289,2 juta (11,46 persen), dan India US$4.501,6 juta (7,08 persen).
Komoditas utama yang diekspor ke Tiongkok pada periode tersebut adalah besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara itu ekspor ke kawasan ASEAN dan Uni Eropa pada periode tersebut kontribusinya masing-masing 20,31 persen dan 6,73 persen.
Total nilai ekspor nonmigas Januari-Maret 2026 ke 13 negara/wilayah/entitas tertentu mencapai US$45.563,5 juta atau naik US$2.103,2 juta (4,84 persen) dibanding periode tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor ke sebagian negara tujuan utama seperti Tiongkok US$2.455,8 juta (17,49 persen); Thailand US$314,7 juta (13,58 persen); dan India US$220,5 juta (5,15 persen). Sementara negara yang mengalami penurunan adalah Korea Selatan US$320,7 juta (14,10 persen); Malaysia US$250,5 juta (8,41 persen); dan Australia US$198,9 juta (20,72 persen).
Untuk ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa pada Januari-Maret 2026 mencapai US$12.917,8 juta dan US$4.278,5 juta, atau ke ASEAN naik 1,08 persen, sedangkan ke Uni Eropa turun 5,58 persen dibanding Januari-Maret 2025.
Adapun ekspor nonmigas Indonesia pada Maret 2026 ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masing-masing mencapai US$6.039,0 juta; US$2.289,1 juta; dan US$1.390,1 juta.
Selain ekspor berdasar rilis berita resmi statistik BPS mencatat nilai impor Indonesia Januari-Maret 2026 mencapai US$61,30 miliar, naik 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan total impor, nilai impor nonmigas juga naik 12,16 persen menjadi US$52,97 miliar.
Untuk nilai impor Indonesia Maret 2026 mencapai US$19,21 miliar, naik 1,51 persen dibandingkan Maret 2025. Demikian pula dengan impor nonmigas naik 1,54 persen menjadi US$16,04 miliar.
Dari sepuluh golongan barang utama nonmigas Januari-Maret 2026, impor golongan mesin/peralatan mekanis dan bagiannya mengalami peningkatan tertinggi senilai US$1,71 miliar (22,10 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara golongan bahan kimia organik mengalami penurunan terbesar senilai US$0,35 miliar (20,62 persen).
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Maret 2026 adalah Tiongkok US$22,02 miliar (41,56 persen), Australia US$3,14 miliar (5,94 persen), dan Jepang US$2,90 miliar (5,47 persen). Impor nonmigas dari ASEAN US$7,89 miliar (14,90 persen) dan Uni Eropa US$3,36 miliar (6,34 persen).
Selama Januari-Maret 2026, nilai impor seluruh golongan penggunaan barang meningkat dengan peningkatan terbesar pada golongan bahan baku/penolong yang naik US$2,78 miliar (6,89 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selanjutnya golongan barang modal naik US$2,51 miliar (24,02 persen) dan barang konsumsi naik US$0,30 miliar (6,12 persen).
Indonesia mengalami surplus Neraca perdangangan pada periode Januari-Maret 2026 sebesar US$5,55 miliar yang berasal dari surplus sektor nonmigas US$10,63 miliar, sementara sektor migas defisit US$5,08 miliar.
Nilai impor Januari-Maret 2026 mencapai US$61.300,7 juta atau naik US$5.595,8 juta (10,05 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Peningkatan ini disebabkan oleh bertambahnya impor nonmigas US$5.741,3 juta (12,16 persen).
Sebaliknya nilai impor migas turun US$145,5 juta (1,72 persen) yang dipicu oleh berkurangnya impor hasil minyak senilai US$271,2 juta (4,33 persen).
Sementara pada Maret 2026, nilai impor naik 1,51 persen (US$285,8 juta) dibandingkan Maret 2025 menjadi US$19.205,8 juta. Peningkatan ini disebabkan oleh bertambahnya impor migas US$41,9 juta (1,34 persen) dan nonmigas US$243,9 juta (1,54 persen).
Lebih lanjut, peningkatan impor migas disebabkan oleh bertambahnya impor minyak mentah US$14,2 juta (1,69 persen) dan hasil minyak US$27,7 juta (1,21 persen).
Berangkat dari kondisi neraca perdagangan Indonesia yang masih surplus karena ditopang nonmigas tetapi terbebani defisit migas, maka Kita bisa memperkuat sumber produk non migas dan meningkatkan produksi migas Indonesia terutama minyak mentah.
(Penulis: Harimurti, S.S.T., M.M.-Ahli Statistik BPS)



