Blitar.MediaRCM.com – Di tengah minimnya respons pemerintah, warga Desa Sumberboto, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, terpaksa turun tangan memperbaiki jalan rusak dengan cara swadaya. Pada Senin (20/4/2026).
Masyarakat melakukan pengecoran di dua titik strategis yang selama ini dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan.
Aksi gotong royong ini bukan sekadar bentuk kepedulian, melainkan juga cerminan kekecewaan warga terhadap lambannya penanganan infrastruktur oleh pihak berwenang.
“Jalan yang diperbaiki merupakan akses vital yang menghubungkan antar dusun dan menopang aktivitas ekonomi, terutama distribusi hasil pertanian.
Sumarlin (54), salah satu warga, mengatakan bahwa perbaikan jalan ini sangat mendesak karena selama ini kerusakan kerap menghambat aktivitas masyarakat.
“Kalau tidak kami adakan Swadaya masyarakat, entah sampai kapan jalan ini akan terus rusak,” ujarnya.
Meski semangat kebersamaan terlihat kuat, kondisi ini sekaligus membuka fakta bahwa tanggung jawab pembangunan justru bergeser ke pundak masyarakat.
Warga menilai pemerintah seolah abai terhadap kebutuhan dasar mereka, padahal jalan tersebut memiliki peran strategis bagi mobilitas dan perekonomian desa.
Sejumlah warga mengaku kerusakan jalan sudah berlangsung lama tanpa adanya tindakan nyata. Janji perbaikan disebut kerap muncul, namun tidak pernah diikuti realisasi di lapangan. Hal ini memicu ketidak percayaan terhadap komitmen pembangunan di tingkat daerah.
“Kami ini hanya masyarakat biasa. Kalau terus menunggu, tidak tahu kapan diperbaiki,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius terkait prioritas pembangunan di Kecamatan Wonotirto. Warga menuntut kehadiran pemerintah yang tidak hanya bersifat simbolis, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.
Sorotan juga diarahkan pada transparansi anggaran, baik di tingkat desa maupun kabupaten. Warga mempertanyakan ke mana alokasi dana infrastruktur selama ini, mengingat jalan yang diperbaiki termasuk jalur penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih.
Fenomena ini sekaligus menegaskan adanya ketimpangan pembangunan antara desa dan wilayah lain yang lebih maju. Saat daerah lain menikmati infrastruktur yang layak, warga Sumberboto harus mengandalkan solidaritas untuk menutup kekosongan peran Pemerintah.
Gotong royong memang menjadi kekuatan sosial yang patut dijaga. Namun, warga menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan. Mereka berharap aksi ini menjadi peringatan keras agar pembangunan infrastruktur ke depan tidak lagi bergantung pada swadaya masyarakat semata.(**)
Penulis Bas



