Tulungagung,-MediaRCM.com
Suasana religius bercampur kegembiraan menyelimuti Dusun Gedangsewu Selatan, Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung pada perayaan Lebaran Ketupat 1447 H. Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang jalan RW 02 / RT 02 untuk mengikuti kenduri ketupat massal yang menjadi tradisi turun-temurun.
Pembukaan Oleh Kepala Desa
Acara sakral ini dibuka langsung oleh Kepala Desa Gedangsewu.
Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi kerukunan warga Dusun Gedangsewu Selatan yang tetap menjaga kelestarian budaya lokal sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Bertindak sebagai tuan rumah sekaligus tokoh masyarakat setempat, Bapak Miswan (Ketua RT 02), tampak sibuk menyambut warga dan tamu yang datang.

Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam pengorganisasian acara yang tertata rapi meski dibanjiri lautan manusia.
Kekhusyukan Doa dan Dentuman Kembang Api
Acara dimulai dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.
Suasana seketika berubah menjadi khidmat saat lantunan ayat-ayat suci dan doa keselamatan dipanjatkan, memohon keberkahan bagi seluruh warga desa di tahun yang baru ini.
Namun, suasana khidmat tersebut segera berganti menjadi kemeriahan yang luar biasa saat puncak acara tiba.
Letusan kembang api beraneka warna menghiasi langit malam Gedangsewu Selatan, menandai dimulainya makan ketupat bersama. Sorak-sorai warga, mulai dari anak-anak hingga lansia, menambah semarak suasana “Kupatan Masal” tahun ini.
Catatan Kemeriahan di RT 02 / RW 02
”Tahun ini benar-benar luar biasa ramainya. Persiapan dari warga RT 02 sangat matang, mulai dari penyediaan ketupat sayur hingga kembang api yang membuat suasana seperti pesta rakyat,” ujar salah satu pengunjung yang hadir.
Detail Acara
Lokasi Dusun Gedangsewu Selatan, RW 02 / RT 02 (Lingkungan Bpk. Miswan).
Waktu Perayaan Lebaran Ketupat 1447 H.
Menu Utama,Ketupat sayur khas Tulungagung yang disajikan secara gotong royong.
Atraksi Pesta Kembang Api dan Doa Bersama.
Perayaan ini membuktikan bahwa Desa Gedangsewu, khususnya di bawah pengawasan perangkat desa dan tokoh masyarakat seperti Bapak Miswan, mampu menjaga tradisi Kupatan bukan sekadar ritual makan bersama, melainkan simbol persatuan dan rasa syukur yang mendalam.(iw)



