MediaRCM| Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-80 tahun 2026 di Banyuwangi tidak hanya menjadi ajang seremoni, tetapi juga ruang refleksi kritis atas kondisi pers di daerah. Komunitas IWB (Info Warga Banyuwangi) bersama sejumlah insan pers dan aktivis menggelar diskusi terbuka di Cafe Becak, Desa Sempu, Kecamatan Sempu, Jumat (13/2/2026).
Banyuwangi,13/02/2026
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua IWB Abi Arbain, Yunus Wahyudi, H. Abdillah, serta sejumlah aktivis dan pegiat sosial lainnya. Diskusi berlangsung dinamis dengan sejumlah catatan kritis terhadap perkembangan media lokal di tengah derasnya arus digitalisasi.
Dalam forum tersebut, peserta diskusi menilai bahwa disrupsi digital telah mengubah pola produksi dan konsumsi informasi secara drastis. Kecepatan kerap mengalahkan verifikasi, sementara persaingan klik dan algoritma media sosial dinilai memengaruhi independensi redaksi.
Sejumlah peserta menyoroti fenomena media daring yang lebih mengedepankan sensasi ketimbang pendalaman substansi. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengikis fungsi pers sebagai kontrol sosial dan penjaga kepentingan publik.

“Pers hari ini dihadapkan pada tantangan besar. Bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal keberanian menjaga integritas di tengah tekanan ekonomi dan kepentingan,” ungkap salah satu aktivis dalam forum tersebut.
Diskusi juga menyinggung dugaan ketimpangan dalam penyajian pemberitaan di Banyuwangi. Beberapa kasus menjadi perhatian, di antaranya perkara NH serta insiden korban meninggal dunia akibat tenggelam di bekas tambang galian C.
Para aktivis menilai terdapat kecenderungan perbedaan intensitas dan framing pemberitaan terhadap kasus-kasus tertentu. Mereka mendorong agar media tetap berpegang pada prinsip keberimbangan, transparansi, serta keberpihakan pada kepentingan publik, khususnya dalam isu-isu yang menyangkut keselamatan masyarakat dan dampak lingkungan.
“Jika menyangkut nyawa dan keselamatan warga, seharusnya tidak ada ruang untuk tebang pilih. Semua harus dikawal secara serius,” tegas salah satu peserta diskusi.
Dalam sambutannya, Ketua IWB, Abi Arbain, menyampaikan bahwa tema HPN 2026, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat,” harus dimaknai lebih dari sekadar slogan.
“Bangsa yang kuat lahir dari informasi yang sehat. Pers harus mampu berdiri independen, tidak tersandera kepentingan, dan tetap konsisten memberikan informasi yang mencerdaskan masyarakat,” ujar Abi Arbain.
Ia juga menegaskan bahwa pers memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan isu-isu strategis di daerah, termasuk persoalan lingkungan dan keselamatan publik, tidak berhenti pada pemberitaan singkat tanpa tindak lanjut.
Peringatan HPN ke-80 di Banyuwangi ini menjadi ruang evaluasi bersama antara insan pers dan masyarakat sipil. Para peserta sepakat bahwa kritik terhadap media bukan untuk melemahkan, melainkan untuk memperkuat fungsi pers sebagai pilar demokrasi.
Diskusi tersebut ditutup dengan harapan agar insan pers di Banyuwangi semakin profesional, transparan, serta berani menyuarakan kepentingan publik di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.
(TIM MediaRCM)



