Bupati Blitar Lepas Pawai 54 Ogoh-Ogoh, Ribuan Warga Padati Wlingi Sambut Nyepi 1947

Reporter Basuki Blitar 13 Views

BLITAR.MediaRCM.com – Bupati Blitar, Drs. H. Rijanto, MM secara langsung memberangkatkan pawai ogoh-ogoh yang diikuti puluhan kelompok peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Blitar.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Bupati Blitar Rijanto.Rabu (18/3/2026),
sepanjang rute pawai, masyarakat tampak antusias menyaksikan puluhan ogoh-ogoh yang diarak oleh para peserta. Pawai ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus wujud kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Blitar.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Blitar, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Blitar, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan peserta yang memeriahkan pawai budaya tersebut.

- Advertisement -

Dalam sambutannya, Bupati Rijanto menegaskan bahwa pawai ogoh-ogoh tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam.

“Ini bukan hanya pawai budaya, tetapi juga wujud kreativitas, gotong royong, serta pesan moral tentang bagaimana manusia mengendalikan sifat negatif demi kehidupan yang harmonis,” ujar Rijanto.

Sebanyak 54 ogoh-ogoh dengan berbagai karakter diarak mengelilingi kawasan Taman Idaman Hati. Bentuknya beragam, mulai dari figur raksasa hingga simbol-simbol mitologis yang mencerminkan tingginya kreativitas para peserta.

Pawai ogoh-ogoh ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Blitar. Selain sebagai tradisi umat Hindu menjelang Hari Raya Nyepi, kegiatan ini juga memperkuat nilai toleransi, kebersamaan, serta pelestarian budaya di tengah masyarakat yang majemuk.

Antusiasme warga yang memadati area pawai menunjukkan bahwa tradisi ogoh-ogoh tidak hanya menjadi milik satu kelompok, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang mempererat harmoni sosial di Kabupaten Blitar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Upacara Tawur Agung Kesanga yang sebelumnya diawali dengan prosesi Melasti di Pantai Jolosutro. Rangkaian ritual tersebut menjadi pembuka sebelum umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian saat Hari Raya Nyepi.

Dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama, yakni tidak menyalakan api atau cahaya (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), serta tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan). Keempat laku tersebut dijalankan selama 24 jam penuh sebagai bentuk pengendalian diri, refleksi, dan penyucian batin.

Melalui rangkaian ritual tersebut, umat Hindu diharapkan mampu mencapai keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sekaligus memulai Tahun Baru Saka dengan hati yang lebih bersih, damai, dan penuh kesadaran spiritual.(**)

Penulis Bas

Bagikan Berita Ini
Tinggalkan Ulasan

Tinggalkan Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *