Media RCM |NGO Laskar Cemeti Emas berkirim surat audiensi kedinas pertanian kabupaten banyuwangi guna mempertanyakan agro wisata tamansuruh yang tidak jelas maksud dan tujuannya.
Banyuwangi,Selasa 6/01/2026
Cemeti menyoroti bangunan agro wisata tamansuruh ini serius karna menggelontorkan dana besar milyaran rupiah, perencanaannya sperti apa program jangka pendek menengah dan panjangnya sperti apa
Anas juga menegaskan proyek besar harus direncanakan maksimal dan selesai diawal bukan malah dibangun setelah itu dibiarkan ini kan sudah menyimpang dari perencanaanya, saya meminta kepada badan pengawas keuangan dan pembangunan(BPKP) jakarta turun di banyuwangi.

Anas sebagai non governmen organization laskar cemeti emas bagaimana komisi 4 DPR RI dan kementerian PUPR Menteri Pertanian perencanaanya seperti apa seharusnya komisi 4 lebih atensi dari pada laskar cemeti emas inikan sebuah marwah karya mereka.
Publik Kabupaten Banyuwangi kembali mengajukan pertanyaan mendalam terkait konsep otentisitas budaya Suku Osing pada proyek pengembangan wisata agro Tamansuruh yang kini terbengek-bengek dan mangkrak. Hingga tahun 2026, kawasan yang seharusnya menjadi magnet wisata justru tak ada aktivitas pariwisata sama sekali, berubah menjadi sarang burung dan lahan yang ditumbuhi rumput liar.
Pada awalnya, proyek Agrowisata Tamansuruh yang berlokasi di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, ditetapkan sebagai sorotan dalam upaya optimalisasi desa wisata sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Konsep visioner yang mengusung identitas budaya Suku Osing bahkan diharapkan menjadikan Banyuwangi sebagai model bagi kabupaten lain di Indonesia. Sorotan tajam pun tertuju pada upaya revitalisasinya, yang ditargetkan menjadi ikon pariwisata baru.
Pembangunan proyek ini dimulai pada September 2021 dengan target penyelesaian akhir tahun 2022. Berdasarkan data dari laman resmi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), penataan kawasan menelan anggaran sebesar Rp 25,7 miliar, dengan kontraktor pelaksana PT Lingkar Persada dan lahan seluas 10,5 hektare.
Namun, fakta di lapangan menyatakan lain. Proyek yang digelontorkan anggaran fantastis ini terkesan mangkrak dan terbengkalai, menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pengelolaan anggaran dan perencanaan proyek. Ironi ini semakin mencolok jika dibandingkan dengan potensi kawasan sebagai penggerak ekonomi kerakyatan; konsep Desa Osing yang seharusnya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan kini terkubur di balik kondisi lahan tersebut.
tim jurnalis Kedinasan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan konfirmasi terkait Argo Wisata Tamansuruh. Hasil konfirmasi menunjukkan bahwa proyek tersebut menunggu investor, dan dibiayai dari APBD pusat, (bukan anggaran dari Dinas PUPR Kabupaten Banyuwangi).
Selain itu, proyek Argo Wisata Tamansuruh telah diserahkan bukan wewenange dinas pupr, udah diserahkan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi. Alasan penyerahan ini adalah karena lahan yang menjadi lokasi proyek merupakan milik Dinas Pertanian, sehingga pengelolaan selanjutnya menjadi tanggung jawab pihak terkait.
Banyuwangi dihadapkan pada tantangan internal. Proyek Agrowisata Tamansuruh menjadi cermin refleksi akan pentingnya perencanaan matang, pengelolaan profesional, dan komitmen berkelanjutan dalam pembangunan. “Sudah puluhan miliar digelontorkan, tetapi bangunannya menjadi monumen bisu. Lahan itu menjadi lahan kosong, anggaran publik seperti terbuang percuma,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat dengan nada prihatin. Semoga kondisi ini menjadi pelajaran berharga untuk pengelolaan pembangunan yang lebih baik di masa depan.
Tim Redaksi RCM



